Amanat Ketua Umum PBNU saat Pembukaan Seminar Nasional Filantropi Islam Nusantara bersama NU Care LazisNU

LazisNUTrenggalek.orgPerkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut setiap organisasi mampu menguasai teknologi. LAZISNU sebagai lembaga yang dipercaya untuk mengumpulkan zakat, infaq dan shodaqoh sudah selayaknya memanfaatkan media sosial guna membangun jaringan secara luas.

“Kalau tidak pakai Medsos akan kalah. LAZISNU juga tidak akan sukses kalau tidak menguasai teknologi,”kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat membuka Seminar Nasional Filantropi Islam Nusantara yang diselenggarakan NU Care-LAZISNU di gedung PBNU, Kamis (2/2).

Pengasuh Pesantren Al Tsaqofah ini menjelaskan, tak ada seorang Islam pun yang mengingkari kewajiban zakat. Namun dalam prakteknya, banyak orang kaya yang susah mengeluarkan zakat.

“Daftar haji ngantri, 30 tahun ngantri. Tapi ngantri bayar zakat itu tidak ada,” tambahnya.

Kiai Said menambahkan, kesalahan dan kelemahan itu ada pada diri sendiri sehingga belum mendapatkan kepercayaan. Ketidakpercayaan tersebut biasanya bukan terletak pada orangnya, tapi sistem administrasinya. “Oleh karena itu, mari perbaiki diri kita, dalam rangka membangun kepercayaan dari semuanya,” pintanya.

Lebih lanjut Kiai Said memberikan harapannya kepada Lembaga NU Care LazisNU agar :

  1. Lembaga NU Care LazisNU harus menjadi lembaga yang kredibel, amanah dalam menerima amanat Muzakki dan Munfiq;
  2. Gunakan sosialisasi “Gerakan NU berzakat menuju kemandirian umat” melalui media sosial;
  3. Berikan kemudahan kepada para Donatur (Muzakki/Munfiq) untuk menyalurkan ZISnya;
  4. Sebagai lembaga amil, NU Care LazisNU hendaknya mampu memberdayakan jamaah nahdliyin, jangan hanya mengandalkan peran CSR dan dana sosial perseorangan tertentu.

Kiai Said juga mengingatkan kepada pengurus NU Care-Lazisnu agar mendapat kepercayaan dari muzakki dengan cara transparan, membangun kerjasama dengan siapapun dengan modal kebaikan, proporsional dan profesional, serta semua harus mampu bertangung jawab.

Sekjend PBNU Helmy Fashal Zaini

Masih dalam kesempatan yang sama di sesi hari berikutnya, Sekretaris Jendral PBNU Helmy Faishal Zaini memberikan orientasi yang menyatakan bahwa ada 3 hal krusial yang menjadi agenda penting Muktamar NU ke-33 di Jombang, yaitu :

  1. Mengokohkan paham ahlussunah wal jama’ah dalam sendi-sendi ajaran Islam;
  2. Mengawal Pancasila dan NKRI;
  3. Meningkatkan kualitas hidup warga NU dalam hal pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi NU.

Terkait dengan hal tersebut, point ketiga merupakan amanat Muktamar yang titik berat pelaksanaannya berada pada lembaga NU Care LazisNU. Karena model pemberdayaan ekonomi itu bisa dicapai dalam 3 aspek yaitu : Investasi, Pemberdayaan Aset dan Voluntery (ZIS).

Maka aspek ketiga mutlak dalam ranah NU Care LazisNU. Dimana dalam pelaksanaannya LAZISNU bisa bersinergi dengan lembaga dan banom NU lainnya, maupun dengan instansi selevel dengannya. Mengingat potensi zakat secara nasional sebesar 400 Triliun masih bisa diserap 1,4% saja atau sekitar 4 Triliun.

Maka disini pentingnya pemahaman kesadaran tentang zakat, dimana zakat merupakan instrumen perekonomian umat Islam. Kemudahan menyalurkan zakat para wajib zakat dan transparansi amil menjadi output utama dari pelaksanaan seminar ini. (iw)