Sedekah Pengadaan KOtak INfaq Barokah

Mari turut menggelorakan Gerakan NU berzakat menuju kemandirian umat dengan ikut berpartisipasi aktif dalam pengadaan KOtak INfaq Barokah yang menjadi sarana bagi masyarakat umum untuk mempermudah menunaikan infaq shodaqohnya melalui NU Care Lazisnu.
0.20% Raised
Rp 50.000 donated of Rp 25.000.000 goal
1 Donors

KOtak INfaq Barokah NU Care Lazis Nahdlatul Ulama Trenggalek ada 3 model terbuat dari bahan kayu, kaca dan akrilik. Kisaran harga masing-masing produk bervariasi. Kotak dari kayu per biji 30.000, dari Kaca 50.000 dan yang dari akrilik 100.000 per biji. Untuk sementara kami memproduksi dan mendistribusikan kotak kayu.

Harapan kami, target awal dari 14 MWC NU di wilayah kami masing-masing akan didistribusikan 100 kotak, sehingga total membutuhkan 1.400 kotak infaq barokah yang sasaran penempatannya adalah toko/kios/warung dimana komunitas warga NU biasa melakukan transaksi.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asaakir, dari Jabir bin Abdillah RA, dari Rasulullah SAW, Allah berfirman, “Inna hadza diinun irtadloituhu linafsi, lan yushlihahu illaa as-sakhoo-u wa husnul khuluq, fa akrimuuhu bihima maa shohibtumuuhumaa, inilah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku. Tidak ada yang mampu membuatnya bagus, kecuali kedermawanan dan akhlak yang bagus. Karena itu, muliakanlah agama ini dengan yang dua itu selama kamu melestarikannya.”

Mengapa kedermawanan? Sebab harta adalah titipan Allah. Titipan itu bisa benar-benar menjadi anugerah kalau manfaatnya mampu menetes kepada lingkungan. Bagi seorang mukmin, segala isi dunia ini, termasuk harta, harus berfungsi ibadah.

Ibadah berarti infak. “Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun, dan sebagian dari yang Kami anugerahkan, mereka infakkan: derma.” Sungguh merugi, hartawan yang tidak demawan. Rugi diri sendiri, rugi pula masyarakatnya.

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW bersabda, bahwa di antara empat hal yang menentukan tegaknya dunia (masyarakat) adalah dermawannya kaum berpunya, disamping ilmunya para ulama, hadirnya pemimpin yang adil, dan doanya orang miskin.

Lebih lanjut, tujuan kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sedangkan akhlak itu sendiri melayani dua matra : hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minan naas (hubungan dengan sesama manusia).

Tidak dapat disebut berakhlak mulia kalau kedua matra itu tak terlayani dengan sebaik-baiknya. Bukan akhlak mulia bila keshalihan ritual tanpa dibarengi keshalihan sosial atau sebaliknya. Sama halnya dengan khusyuk (merendahkan diri di hadapan Allah), tak dapat dipisah dari tawadhu (berendah hati di hadapan makhluk).

Zakat, infak dan sedekah sebagai bentuk keshalihan sosial dan hablun minan naas, merupakan instrumen yang sangat penting dalam pemberdayaan masyarakat. Sebab jika potensi zakat itu bisa tergali maka pemberdayaan masyarakat akan besar dan bisa menghilangkan kemiskinan di Indonesia.

Diperlukan upaya untuk terus menggali potensi zakat ini agar bisa memberikan nilai tambah dan melakukan perubahan besar-besaran dalam mengentaskan kemiskinan dengan cara yang sangat cepat. Jumlah masyarakat muslim Indonesia yang banyak, menjadi sangat potensial untuk menjaring sebanyak-banyaknya para calon muzaki.

Proses ini membutuhkan berbagai cara dan inovasi agar penghimpunan zakat semakin intensif, karena penghimpunan dana zakat di Indonesia masih jauh potensi yang sesungguhnya.

Orang yang belum berzakat atau yang berzakat tapi tidak melalui lembaga, bisa berzakat melalui lembaga zakat. Karena penyaluran zakat melalui lembaga pembagiannya akan lebih selektif, tidak konsumtif, dan pemberdayaannya sangat produktif.

Semoga potensi zakat ini bisa meningkatkan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat, sehingga nantinya zakat harus bisa mengubah seorang muslim menjadi kuat. Mustahik berubah menjadi muzaki sehingga bisa meningkatkan jumlah orang yang berzakat, serta memberdayakan bidang-bidang lain yang dibutuhkan masyarakat, seperti pendidikan, dakwah dan pengembangan ekonomi kerakyatan lainnya.

Berbagi itu memberi, saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Nilai-nilai berbagi itu bagian dari ajaran islam, yakni ma’iyah. Kita tidak boleh membiarkan ada orang yang sulit.

Bahkan dalam hadits disebutkan: “Bukan golongan kami orang yang tidur dengan perut kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar”. Program zakat ini akan menciptakan perubahan yang sangat besar, khususnya bagi Indonesia. Semoga.